Best_Practice_06MENILIK berbagai gejala alam yang dapat memicu bencana alam, Kabupaten Lampung Barat yang berada di jalur Bukit Barisan dan berhadapan dengan Samudera Indonesia ada di sentra wilayah bencana. Di wilayah pegunungan berada pada zona patahan Semangka (Sumatra transform pault zone) yang bergerak dengan kecepatan antara 7 dan 14 cm/tahun sesuai dengan gerak sundulan penunjang kerak Samudera Indonesia-Australia di Selatan, yang di lokasi lantai samuderanya juga dapat berakibat terjadinya tsunami seperti kasus gempa Nias dan Aceh pada tahun 2004 dan 2005.

Berdasarkan hal tersebut, catatan sejarah gempa Liwa-Suoh telah terjadi pada tahun 1933 dan 1994, yang secara statistik diduga berperiode ulang 60 tahunan.

Di sisi lain, kondisi geomorfologi pegunungan, dataran tinggi, dan dataran rendah-pantai telah menempatkan Lampung Barat sebagai areal tangkapan hujan bagi wilayah kabupaten/kota yang ada di bagian hilirnya. Jika tidak dikonservasi, akan berakibat fatal karena terjadi kelangkaan air baku, air bersih, dan air minum pada musim kemarau dan sebaliknya terjadi banjir pada musim hujan.

Sedangkan di Lampung Barat dengan kondisi tanah dan batuan retaslongsor-w3-binamarga-jateng-go-id terpatahkan akan mudah terjadi longsor dan gerakan tanah seperti yang sering melanda jalan Bukit Kemuning–Liwa–Krui yang rutin terjadi sepanjang tahun.

Secara ekosistem hal ini terdukung dengan keberadaan kawasan yang harus dikonservasi dan dilindungi berupa Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS), hutan lindung, dan hutan suaka alam wisata dan marga satwa, termasuk taman laut nasional yang intinya mencapai 76,28%, sehingga hanya tersisa 23,72% yang boleh dibudidayakan untuk kegiatan pertanian, perkebunan, permukiman, pariwisata, dan kegiatan antropojenik lain. Kondisi semacam inilah yang menjadi salah satu faktor penyebab rendahnya PAD Lampung Barat yang sampai anggaran 2006 belum bisa mencapai Rp10 miliar. Baca lebih lanjut

Iklan