dsc_0100updateFajar mulai menyingsing ketika seorang laki-laki di usia 30-an memanjat Damar Pinus, membawa sebuah keranjang rotan di bahunya. Ia menaiki pohon itu begitu cepat, menggunakan tali dari rotan, dengan hati-hati ia memeriksa setiap potongan pada pohon untuk mendapatkan getahnya. Saat menemukan getah yang mengental, getah yang sudah kering, ia mengambilnya dan menaruh potongan-potongan itu ke dalam keranjang. Aktivitas seperti itu merupakan pemandangan umum di desa Pahmungan, Krui, Lampung Barat.

Bagi masyarakat krui, mengumpulkan getah damar tidak hanya pekerjaan laki-laki tetapi juga untuk perempuan. Damar Pinus (Shorea javanica) telah diolah di Krui sejak ratusan tahun yang lalu. Kawasan alami pohon damar telah dikenal di luar negeri sudah sejak lama. Para penguasa Belanda pada masa penjajahan menggunakannya sebagai bahan baku untuk memproduksi berbagai produk seperti pernis, cat, tinta, kemenyan dan kosmetik sebagaimana yang dijelaskan Oyos Saroso HN.
Hingga kini, masyarakat Krui terus melindungi warisan mereka, nuansa hijaupanjat damar pepohonan Damar Pinus mengisi bukit dan peternakan di wilayah pesisir. Masyarakat krui dalam mengelola perkebunan repong damar mempunyai hukum adat untuk melindungi Damar Pinus. Pohon Damar Pinus tidak boleh ditebang dan setiap orang yang melanggar hukum tersebut menerima hukuman dalam bentuk penanaman pohon Damar baru, Bahkan setiap orang yang akan menjadi calon pengantin harus menanam pohon sebelum menikah. Beberapa orang Krui bahkan percaya bahwa mereka dapat berbicara dengan Damar pinus. Selama bertahun-tahun, orang tua di Krui mengatakan kepada anak-anak mereka, “jika Anda butuh uang untuk membayar biaya sekolah anak-anak Anda, berbicaralah dengan pohon Damar”. Baca lebih lanjut