Kita sering tidak adil pada bumi kita ini. Kita kuras isi perutnya, kita gali tanahnya, kita ambil semua kekayaannya tanpa berpikir bagaimana membalasnya. Kita hanya tahu menggunakan bahan bakar sepuas-puasnya tanpa memikirkan buangan gas kita malah membuat bumi kita makin tua.

Makanya, jangan heran kalau sesekali bumi kita marah juga. Tsunami, gempa bumi, kekeringan, gagal panen, banjir lumpur, banjir bandang, semua itu mungkin tanda-tanda kalau bumi kita protes. Protes kepada manusia yang selalu berdiri paling depan sebagai pendosa, protes kepada manusia yang selalu tampil paling serakah tanpa tahu berterima kasih.

Saat ini bumi kita sedang terancam pemanasan global. Suhu di bawah atmosfir makin meninggi, cuaca makin sulit diprediksi, kemungkinan gagal panen makin tinggi, parahnya lagi es di kutub utara mulai mencair dan airnya siap menenggelamkan kota-kota besar di pinggir laut. Tak perlu menunggu lama, semua efek negatif keserakahan kita itu sudah terpampang di depan mata, nyaris tanpa ampun merenggut semua yang kita sayangi.

Salah bumi kah itu ?. Mungkin tidak..kita-umat manusia-selalu ambil bagian dalam setiap senti kerusakan di bumi ini. Maka jangan salahkan bumi bila dia menggelegak melepaskan amarahnya.

Perlu niat kuat dari kita untuk merubah semua itu dan membalas dosa-dosa kita pada bumi ini. Mungkin efeknya sangat kecil, tapi setidaknya berusahalah memulai dari diri sendiri, dengan harapan akan makin banyak orang yang akan terpengaruh.

Indonesia termasuk dalam jajaran paling atas untuk kategori perusak hutan. Setiap menit, kita kehilangan hutan seluas 6 lapangan bola. Sayangnya para pelaku kejahatan itu akhirnya malah bisa bebas dengan seenaknya sambil mengibaskan segepok duit hasil menjarah paru-paru bumi itu.


Tapi kita juga boleh protes kepada negara-negara di utara dan barat sana. Mereka seenaknya saja menuduh Indonesia sebagai perusak hutan kemudian menugaskan Indonesia untuk menjadi penjaga hutan, sementara mereka terus asyik memproduksi kendaraan-kendaraan penghasil polusi, pelubang ozone.

Kita juga harusnya punya posisi tawar yang tinggi, jangan hanya mau disuruh menjaga hutan tapi di lain pihak jadi korban kapitalisme. Mereka-mereka itu meproduksi kendaraan sebanyak mungkin lalu menjejalkannya ke mulut-mulut kita, bahkan dengan harga yang sangat murah. Di satu sisi mereka mengecam kita, tapi di sisi lain mereka juga yang memaksa kita menghabiskan sampah-sampah kapitalisme mereka. Aneh,

Tapi mungkin kita juga yang bodoh. Mau saja disuruh-suruh bak jongos oleh mereka. Pemerintah kita tak pernah serius membenahi transportasi publik dan kebijakan-kebijakan transportasi lainnya yang bisa menekan jumlah pemakaian kendaraan pribadi.

Coba tengok sekitar kita. Betapa mudahnya memiliki sepeda motor, hanya dengan modal Rp. 250.000,- atau bahkan gratis, sebuah sepeda motor akan menjadi milik kita. Wajar memang, karena bagaimanapun manusia selalu ingin mencari yang lebih hemat dan praktis. Kendaraan umum masih menjadi momok bagi kita. Tak ada transportasi yang bisa menjamin kita tiba di tujuan dengan cepat dan murah. Maka saat itu terjadi, motor pribadi kemudian menjadi pilihan utama.

Tengok juga berapa banyak mall-mall baru yang tumbuh di sekitar kita. Mall-mall yang dilengkapi dengan pendingin ruangan yang ber-freon dan siap menambah besar lubang di atmosfir kita. Bandingkan dengan jumlah pohon yang ditanam, bandingkan dengan penghijauan yang digalakkan. Sama sekali tidak imbang. Makanya jangan heran kalau bumi kita sering marah. Bumi kita mungkin kecewa, pengorbanannya selama ini disia-siakan.

Tak ada pilihan lain memang, kita harus berusaha memulai usaha-usaha menghentikan atau meperlambat pemanasan global. Mungkin bukan untuk kita, tapi setidak-tidaknya anak cucu kita bisa merasakan manfaatnya.

Dalam konteks penyelamatan bumi dari pemanasan global dan berbagai pengrusakan lainnya, saya kembali merasa bangga menjadi fans sebuah band bernama Pearl Jam.
Mereka termasuk jajaran terdepan musisi yang care pada usaha membalas dosa kepada bumi kita. Berbagai macam kegiatan-kegiatan nyata untuk menanggulangi kerusakan pada bumi telah mereka lakukan. Mulai dari mengganti semua truk dan bus tur mereka dengan bus dan truk yang menggunakan bahan bakar biodiesel sampai menyumbangkan ratusan ribu dollar untuk usaha-usaha eksplorasi energi alternatif yang lebih ramah terhadap lingkungan.

Bagaimana dengan kita ?, kita tentu tak perlu menunggu untuk terkenal atau berkuasa dulu sebelum memulai usaha membersihkan bumi dari segala kerusakan bukan ?. Kita bisa memulainya dari yang terkecil sambil berharap usaha kecil itu bisa menjadi usaha besar yang memberi pengaruh besar untuk bumi. Di antaranya mungkin kita bisa mulai mengurangi penggunaan AC yang berlebihan, mengurangi pemakaian kendaraan pribadi atau memakai kendaraan pribadi yang lebih ramah lingkungan dan mungkin kita bisa berusaha menanam setidaknya 1 pohon satu orang di lingkungan kita.
Berani memulai dari sekarang ?.