logo_pemdaSebelum kita lebih jauh membahas mengenai bahasa lampung yang mulai tersisihkan oleh mordernisasi, Mari saya tuntun anda pada sepenggal peristiwa kecil dari pengalaman saya.

Beberapa waktu yang lalu di lampung barat secara tidak senghaja saya mendengar sebuah dialog antara anak tadi ayahnya yang membuat saya tertarik untuk membahas mengenai bahasan kita kali ini.

Anak: Bak (sebutan Ayah dalam Bahasa Lampung) , nyak main bola di hadap ya ?

Ayah: Jangan!! kamu kan udah mandi nanti kotor lagi ! (jawab Sang ayah menggunakan Bahasa Indonesia)

Anak: Sekhabbok gawoh (Sebentar aja)

Ayah: Ya udah, nanti kalau udah selesai cuci kakinya.

Seketika saya terdiam menyaksikan kondisi yang menurut saya ironis, mengapa?? Karena si ayah adalah orang yang jika harus saya tinjau dari Silsilah keluarga tidak di ragukan lagi keasliannya sebagai orang lampung . Tapi mengapa dia mengajarkan anaknya untuk menggunakan Bahasa Indonesia sebagai bahasa sehari-hari mereka?, toh nantinya seiring waktu si anak juga akan bisa berbahasa Indonesia .

Lalu kenapa?

Saya tidak tahu secara rinci dan detail mengenai teory ini tapi saya simpulkan bahwa hal ini di sebabkan oleh arus Modernisasi, Mungkin sang ayah tadi akan merasa hebat jika dalam keseharian mereka menggunakan bahasa Indonesia padahal jelas jelas dulu dia diajarkan oleh ayahnya bahasa lampung.

OK saya mengerti bagi mereka orang lampung namun sudah sejak lama berada di rantau, katakan saja di Bandar Lampung….,, itupun tidak sedikit dari mereka yang masih mengajarkan bahasa lampung kepada anak-anaknya, lalu mengapa malah mereka yang memang tinggal di daerah bahkan di pelosok daerah yang memang menggunakan bahasa lampung dalam kesehariannya malah mengajarkan bahasa Indonesia pada anaknya dalam keseharian.

WHY ??

Takut di bilang Kampungan kalau menggunakan bahasa daerah?

Saya sungguh tidak mengerti dengan pola pikir seperti itu, Justru menurut saya orang yang berpola pikir sperti itulah yang Kampungan. Maaf kalau ada yang tersinggung dengan ucapan saya itu. Tetapi jika anda mengerti apa yang saya maksudkan saya rasa perkataan saya itu wajar.

liwaBukan tidak mungkin suatu saat bahasa bahasa daerah di Indonesia termasuk bahasa lampung akan punah karena sudah semakin mengecilnya kesadaran kita akan arti pentingnya sebuah kebudayaan.

Cerita di atas hanyalah sepenggal cerita dari pengalaman pengalaman saya, Masih banyak lagi peristiwa serupa yang saya temui di Lampung Barat, namun rasanya itu sudah cukup untuk memperjelas bahasan kita kali ini.

Jadi marilah bersama-sama kita jaga kelestarian warisan Budaya dari nenek moyang kita sebaik-baiknya.

Mohon maaf atas segala kekurangan dan kesalahan,

Mak kham, Sapa lagi ?

Mak ganta, Kapan lagi ?

By: Artha Dinata AR