Surfing di Pantai Tanjung Setia Krui Lampung Barat
Tanjung Setia adalah pantai yang terletak 60 km dari Liwa (ibukota Lampung Barat).
Pantai ini merupakan salah satu pantai yang ada di Krui Lampung Barat dan sangat dikenal dengan ketinggian ombaknya yang menjadi salah satu pantai dengan ombak tertinggi di dunia.
Dengan ketinggian ombaknya yang memiliki tinggi 5 meter dan panjang gelombang 200 meter, maka tak heran jika tidak kurang dari 100.000 orang wisatawan yang berasal dari Australia, Portugal, Belanda dan Jepang selalu berkunjung ke Pamtai ini setiap tahunnya untuk melakukan Surfing.
Jadi, jika anda mempunyai hobby Surfing maka Pantai Tanjung Setia akan menjadi salah satu pilihan yang tepat. di Pantai ini juga telah tersedia Surfing Camp untuk lebih memudahkan para wisatawan yang ingin melakukan Surfing.
By : Artha Dinata AR
Sumber : Dinas Pariwisata Lampung Barat
Asal-usul (Sejarah) Lampung Barat
Dari peninggalan – peninggalan sejarah dan budaya dalam bentuk patung, pahatan dan corak megalitik yang ditemukan di Sumber Jaya, Kenali, dan Batu Brak menunjukkan bahwa suku Lampung berasal dari sebuah Kerajaan yang bertahta di Lereng Gunung Pesagi yang letaknya di daratan Belalau.
Sejak masuknya Agama Islam di Lampung Barat, Kerajaan Sekala Brak diperintahkan oleh 4 orang umpu yang dinamakan Paksi Pak Sekala Brak, yaitu :
1. Umpu Belunguh, menjadi raja di buay Belunguh dengan ibukotanya Tanjung Menang Kenali.
2. Umpu Pernong, menjadi raja di buay Pernong dengan ibukotanya Hanibung. Dan saat ini yang menjadi raja dari Paksi Pak Sekala Brak adalah Pangeran Dalem Edwarsyah Pernong yang merupakan Kapolres Metro Jakarta Barat,

3. Umpu bejalan Di Way, menjadi raja di Buay Bejalan Di Way dengan ibukotanya Puncak Dalam.
4. Umpu Nyerupa, menjadi raja di Buay Nerupa dengan ibukotanya Tapak Siring.
Setelah kerajaan Sekala Brak runtuh, maka Pohom Melasa Kepapang yang di puja Suku Tumi itu ditebang oleh Paksi Pak Sekala Brak, kemudian dibuat Pepadun yaitu tampat duduk/singgasana tempat Paksi Pak Sekala Brak melantik kepala – kepala suku dan meng-Islamkan mereka.
By : Artha Dinata AR
Dituduh maling di sebuah mall
Yup begitulah kenyataannya. Tragedi ini terjadi saat saya sedang berada di sebuah mall di Bandar lampung, mall kartini (nama gaulnya moca).
Saat itu saya sedang melihat-lihat baju, beberapa saat kemudian muncul sesosok laki-laki berlari-lari sambil menenteng sebuah tas lalu menabrak saya sampai kami semua terjatuh.
Kemudian laki-laki itu bangun dan langsung berlari sementara saya masih duduk tercengang melihat laki-laki tadi yang kebetulan bajunya berwarna hitam persis seperti baju yang saya kenakan saat itu.
Tidak lama muncul seorang ibu-ibu bersama dua orang satpam berlari kearah saya sambil berteriak maling.
Ibu-ibu : Pak itu malingnya yang pakai baju hitam
Satpam : Ibu yakin itu malingnya ?
Ibu-ibu : iya pak, saya yakin sekali.
Lalu mereka mendekati saya yang sudah di kerumuni banyak orang karena teriakan maling oleh ibu-ibu tadi.
Satpam : Kamu yang maling tas ibu ini ?
Saya : Maling apaan ? Bapak jangan sembarang nuduh gitu dong !
Satpam : Sudah jangan banyak alasan, ibu ini sendiri yang bilang!
Ibu-ibu : Iya, kamu kan yang maling tas saya ?ngaku aja deh!
Satpam : Nah, ini dia tas ibu. (satpam itu menemukan tas yang ternyata ketinggalan oleh maling tadi)
Saya : ( Mati dah gw sekali ini, tas curian maling keparat tadi pake di ketinggalan ). Itu tas orang yang tadi nabrak saya pak!
Satpam : Gak usah banyak omong. sekarang kamu ikut kami ke ruang security, untuk penjelasan lebih lanjut.
Saya pun pergi ke ruang security, disana saya ditanyai lagi.
Satpam : Siapa nama kamu?
Saya : Artha.
Satpam : Jadi gimana, kamu mau ngaku apa enggak ?
Saya : Ya Allah pak..!! saya mau ngakuin apa ? saya gak maling apa-apa! Baca selebihnya »
Pesta Sekura Lampung Barat, budaya yang mulai kehilangan Taste

Pesta Sekura adalah sebuah acara di Lampung Barat yang di lakukan pada hari setiap lebaran dan biasanya di mulai dari 2 syawal selama kurang lebih satu minggu..di beberapa desa setiap hari secara bergantian walaupun tidak jarang dalam satu hari ada 2 desa atau lebih secara bersamaan mengadakannya.
Pesta sekura di isi dengan kegiatan panjat pinang, dan tentunya di meriahkan oleh orang-orang yang memakai topeng yang di sebut Sekura.
Ada 2 jenis sekura dalam sebuah Pesta Sekura yaitu
-
Sekura kamak
-
Sekura betik
- Sekura kamak adalah sekura yang topengnya lebih unik dan menggunakan peralatan seadanya dan kebanyakan sekura ini peralatan (pakaiannya) agak kotor karena memang sekura jenis inilah yang akan melakukan panjat pinang
- Sekura Betik adalah sekura yang pakaian dan peralatab topengnya lebig bersih dan rapih,pakaian sekura betik sebagian besar adalah dari sarung da beberapa kain.
Nah, foto saya di atas adalah jenis sekura betik.
Tujuan Pesta Sekura ini
Pesta sekura ini di lakukan sebagai wujud kegembiraan atas hasil panen yang melimpah. walaupun saat ini makna kegiatan ini tidak lagi mutlak sebagai wujud kegembiraan atas hasil panen melainkan memang sudah menjadi suatu kebiasaan dan di beberapa desa sudah merupakan agenda tahunan.
Pesta sekura semakin lama semakin kurang diminati
Entah mengapa Pesta sekura dari tahun ke tahun semakin merosot baik pengunjung maupun yang bersekura/bertopeng (orang yang menjadi sekura) semakin menurun.
Tetapi dari yang saya amati selama ini, mulai menurunnya minat terhadap pesta sekura ini pada dasarnya disebabkan jenuhnya masyarakat terhadap acara tersebut.
Sebagian besar dari mereka mengatakan bosan karena hanya itu itu saja yang mereka temui pada pada hari lebaran. Kemudian alasan mengapa masyarakat lampung barat sudah kurang berminat untuk bersekura/bertopeng adalah kebanyakan karena malu.
Yea…
Kurang lebih begitulah penyebabnya.
Menurut saya dari apa yang saya amati berkurangnya minat serta jenuhnya masyarakat lampung barat terhadap kegiatan ini adalah karena kegiatan ini kurang variatif dan kreatif. Selama ini yang tergambar dalam acara ini hanya sekura yang berputar-putar dari ujung ke ujung desa tersebut dan sekura kamak memanjat pohon pinang, dan selalu begitu.
Mengapa kita tidak menciptakan varian varian baru yang tentunya akan lebih meriah dan semakin menonjolkan ciri khas adat dan kebudayaan kebudayaan tersebut ?
Misalnya saja perlombaan menulis Pantun adat seperti Butattah dari desa ke desa yang kemudian di pertunjukkan pada saat acara pesta sekura dan tentunya harus betul betul di garap dengan sungguh sungguh agar varian baru tersebut hanya menjadi pertama dan terakhir.
Memang mudah jika berbicara, akan tetapi asalkan kita punya kemauan yang keras untuk maju saya sangat yakin Tuhan pasti memberikan jalan.
Ada kemauan ada jalan, itulah resikonya.
Itulah mengapa saya dan teman-teman baik yang dari rantau dan teman-teman yang memang berada di lampung barat bersemangat sekali untuk sekura (bertopeng) sperti yang anda lihat di foto di atas
Itu foto kami saat sekura Lebaran kemarin.
Ada yang tau, yang manakah saya pada foto tersebut ??
Jika ada yang tau, Maka tolong kirim email pada saya sekarang juga karena jika anda tau saya pastikan anda adalah salah satu orang yang ada di foto itu.
Ya, Itulah serunya sekura (bertopeng), kami bisa melakukan apa yang ingin kami lakukan tanpa ada yang mengnali kami, kami bisa berjungkir-balik bahkan berteriak seperti orang yang sedang tak punya masalah padahal baru saja kami melihat padahal barusaja kami melihat pacar salah satu teman kami di gandeng orang.
Mak kham sapa lagi ?
Mak ganta kapan lagi ?
by :Artha Dinata AR
Bahasa Lampung ku sayang, Bahasa Lampung ku malang
Sebelum kita lebih jauh membahas mengenai bahasa lampung yang mulai tersisihkan oleh mordernisasi, Mari saya tuntun anda pada sepenggal peristiwa kecil dari pengalaman saya.
Ketika itu saya sedang berkunjung ke rumah salah satu saudara di Lampung Barat dan kebetulan keponakan saya juga ada di rumah karena biasanya setiap saya datang saya jarang dapat bertemu dia. Keponakan saya ini umurnya sekitar 4 Tahun.Dan tibalah sebuah mini dialog antara keponakan tadi dengan ayahnya yang membuat saya tertarik untuk membahas mengenai bahasan kita kali ini.
Anak : Bak (sebutan Ayah dalam Bahasa Lampung) , nyak main bola di hadap ya ?
Ayah : Jangan!! kamu kan udah mandi nanti kotor lagi ! (jawab Sang ayah menggunakan Bahasa Indonesia)
Anak : Sekhabbok gawoh (Sebentar aja)
Ayah : Ya udah, nanti kalau udah selesai cuci kakinya.
Seketika saya terdiam menyaksikan kondisi yang menurut saya ironis, mengapa?? Karena si ayah adalah orang yang jika harus saya tinjau dari Silsilah keluarga tidak di ragukan lagi keasliannya sebagai orang lampung . Tapi mengapa dia mengajarkan anaknya untuk menggunakan Bahasa Indonesia sebagai bahasa sehari-hari mereka?, toh nantinya seiring waktu si anak juga akan bisa berbahasa Indonesia .
Lalu kenapa?
Saya tidak tahu secara rinci dan detail mengenai teory ini tapi saya simpulkan bahwa hal ini di sebabkan oleh arus Modernisasi, Mungkin sang ayah tadi akan merasa hebat jika dalam keseharian mereka menggunakan bahasa Indonesia padahal jelas jelas dulu dia diajarkan oleh ayahnya bahasa lampung.
OK saya mengerti bagi mereka orang lampung namun sudah sejak lama berada di rantau, katakan saja di Bandar Lampung….,, itupun tidak sedikit dari mereka yang masih mengajarkan bahasa lampung kepada anak-anaknya, lalu mengapa malah mereka yang memang tinggal di daerah bahkan di pelosok daerah yang memang menggunakan bahasa lampung dalam kesehariannya malah mengajarkan bahasa Indonesia pada anaknya dalam keseharian.
WHY ??
Menapi cak khanno ??
Takut di bilang Kampungan kalau menggunakan bahasa daerah?
Saya sungguh tidak mengerti dengan pola pikir seperti itu, Justru menurut saya orang yang berpola pikir sperti itulah yang Kampungan. Maaf kalau ada yang tersinggung dengan ucapan saya itu. Tetapi jika anda mengerti apa yang saya maksudkan saya rasa perkataan saya itu wajar.
Bukan tidak mungkin suatu saat bahasa bahasa daerah di Indonesia termasuk bahasa lampung akan punah karena sudah semakin mengecilnya kesadaran kita akan arti pentingnya sebuah kebudayaan.
Cerita di atas hanyalah sepenggal cerita dari pengalaman pengalaman saya, Masih banyak lagi peristiwa serupa yang saya temui di Lampung Barat,
Namun rasanya itu sudah cukup untuk memperjelas bahasan kita kali ini karena terlalu panjang kalau harus di tulis semua disini, selain akan menyita waktu, saya tidak ingin tulisan saya ini masuk MURI karena terlalu panjang dan menjengkelkan karena terlalu banyak cerita cerita tidak penting di dalamnya.
Jadi marilah bersama-sama kita jaga kelestarian warisan Budaya dari nenek moyang kita sebaik-baiknya.
Mohon maaf atas segala kekurangan dan kesalahan,
Mak kham, Sapa lagi ?
Mak ganta, Kapan lagi ?
By: Artha Dinata AR
Global Warming (Pemanasan Global),Indonesia dan Negara Maju
Kita sering tidak adil pada bumi kita ini. Kita kuras isi perutnya, kita gali tanahnya, kita ambil semua kekayaannya tanpa berpikir bagaimana membalasnya. Kita hanya tahu menggunakan bahan bakar sepuas-puasnya tanpa memikirkan buangan gas kita malah membuat bumi kita makin tua.
Makanya, jangan heran kalau sesekali bumi kita marah juga. Tsunami, gempa bumi, kekeringan, gagal panen, banjir lumpur, banjir bandang, semua itu mungkin tanda-tanda kalau bumi kita protes. Protes kepada manusia yang selalu berdiri paling depan sebagai pendosa, protes kepada manusia yang selalu tampil paling serakah tanpa tahu berterima kasih.
Saat ini bumi kita sedang terancam pemanasan global. Suhu di bawah atmosfir makin meninggi, cuaca makin sulit diprediksi, kemungkinan gagal panen makin tinggi, parahnya lagi es di kutub utara mulai mencair dan airnya siap menenggelamkan kota-kota besar di pinggir laut. Tak perlu menunggu lama, semua efek negatif keserakahan kita itu sudah terpampang di depan mata, nyaris tanpa ampun merenggut semua yang kita sayangi.
Salah bumi kah itu ?. Mungkin tidak..kita-umat manusia-selalu ambil bagian dalam setiap senti kerusakan di bumi ini. Maka jangan salahkan bumi bila dia menggelegak melepaskan amarahnya.
Perlu niat kuat dari kita untuk merubah semua itu dan membalas dosa-dosa kita pada bumi ini. Mungkin efeknya sangat kecil, tapi setidaknya berusahalah memulai dari diri sendiri, dengan harapan akan makin banyak orang yang akan terpengaruh.
Indonesia termasuk dalam jajaran paling atas untuk kategori perusak hutan. Setiap menit, kita kehilangan hutan seluas 6 lapangan bola. Sayangnya para pelaku kejahatan itu akhirnya malah bisa bebas dengan seenaknya sambil mengibaskan segepok duit hasil menjarah paru-paru bumi itu.
Tapi kita juga boleh protes kepada negara-negara di utara dan barat sana. Mereka seenaknya saja menuduh Indonesia sebagai perusak hutan kemudian menugaskan Indonesia untuk menjadi penjaga hutan, sementara mereka terus asyik memproduksi kendaraan-kendaraan penghasil polusi, pelubang ozone.
Kita juga harusnya punya posisi tawar yang tinggi, jangan hanya mau disuruh menjaga hutan tapi di lain pihak jadi korban kapitalisme. Mereka-mereka itu meproduksi kendaraan sebanyak mungkin lalu menjejalkannya ke mulut-mulut kita, bahkan dengan harga yang sangat murah. Di satu sisi mereka mengecam kita, tapi di sisi lain mereka juga yang memaksa kita menghabiskan sampah-sampah kapitalisme mereka. Aneh,
Tapi mungkin kita juga yang bodoh. Mau saja disuruh-suruh bak jongos oleh mereka. Pemerintah kita tak pernah serius membenahi transportasi publik dan kebijakan-kebijakan transportasi lainnya yang bisa menekan jumlah pemakaian kendaraan pribadi.
Coba tengok sekitar kita. Betapa mudahnya memiliki sepeda motor, hanya dengan modal Rp. 250.000,- atau bahkan gratis, sebuah sepeda motor akan menjadi milik kita. Wajar memang, karena bagaimanapun manusia selalu ingin mencari yang lebih hemat dan praktis. Kendaraan umum masih menjadi momok bagi kita. Tak ada transportasi yang bisa menjamin kita tiba di tujuan dengan cepat dan murah. Maka saat itu terjadi, motor pribadi kemudian menjadi pilihan utama.
Tengok juga berapa banyak mall-mall baru yang tumbuh di sekitar kita. Mall-mall yang dilengkapi dengan pendingin ruangan yang ber-freon dan siap menambah besar lubang di atmosfir kita. Bandingkan dengan jumlah pohon yang ditanam, bandingkan dengan penghijauan yang digalakkan. Sama sekali tidak imbang. Makanya jangan heran kalau bumi kita sering marah. Bumi kita mungkin kecewa, pengorbanannya selama ini disia-siakan.
Tak ada pilihan lain memang, kita harus berusaha memulai usaha-usaha menghentikan atau meperlambat pemanasan global. Mungkin bukan untuk kita, tapi setidak-tidaknya anak cucu kita bisa merasakan manfaatnya.
Dalam konteks penyelamatan bumi dari pemanasan global dan berbagai pengrusakan lainnya, saya kembali merasa bangga menjadi fans sebuah band bernama Pearl Jam.
Mereka termasuk jajaran terdepan musisi yang care pada usaha membalas dosa kepada bumi kita. Berbagai macam kegiatan-kegiatan nyata untuk menanggulangi kerusakan pada bumi telah mereka lakukan. Mulai dari mengganti semua truk dan bus tur mereka dengan bus dan truk yang menggunakan bahan bakar biodiesel sampai menyumbangkan ratusan ribu dollar untuk usaha-usaha eksplorasi energi alternatif yang lebih ramah terhadap lingkungan.
Bagaimana dengan kita ?, kita tentu tak perlu menunggu untuk terkenal atau berkuasa dulu sebelum memulai usaha membersihkan bumi dari segala kerusakan bukan ?. Kita bisa memulainya dari yang terkecil sambil berharap usaha kecil itu bisa menjadi usaha besar yang memberi pengaruh besar untuk bumi. Di antaranya mungkin kita bisa mulai mengurangi penggunaan AC yang berlebihan, mengurangi pemakaian kendaraan pribadi atau memakai kendaraan pribadi yang lebih ramah lingkungan dan mungkin kita bisa berusaha menanam setidaknya 1 pohon satu orang di lingkungan kita.
Berani memulai dari sekarang ?.
Blog Artha Dinata Sanak liwa lampung barat
Setelah malang melintang di dunia maya dan akrab sekali dengan salah satu search engine yang paling popular di jagad raya ini yaitu Google…….,,
Akhirnya saya sampai pada suatu masa dimana saya menemukan sebuah blog anak Lampung Barat yang membuat saya ternganga sesaat seperti sebuah bola lampu yang tiba-tiba menyala di atas kepala saya (agak berlebihan)…….,,
saya mulai berpikir “kenapa enggak” saya mengekspose semua hal mengenai Lampung barat melalui dunia maya dengan gaya saya sendiri.
Memang tidak sedikit teman teman di kampus yang merekomendasikan (duh bahasanya) agar membuat blog tapi saya samasekali tidak tertarik waktu itu, tapi kali ini saya benar benar tertarik untuk membuat blog,
Mulailah saya mencari segala informasi tentang blog hingga saya berhasil membuat blog ini yang saya namakan arthaliwa.wordpress.com.
Walaupun masih agak carut marut tapi ok lah untuk kelas pemula.
Kenapa saya pilih WordPress untuk blog saya….?
Karena blog WordPress lebih gampang dan tidak banyak menuntut syarat-syarat untuk pengunjung yang ingin memberikan komentar, dan saya adalah orang yang senang di beri komentar. So buat kamu-kamu Muli Mekhanai yang berkunjung ke blog saya, jangan ragu atau sungkan memberikan komentarnya OK.. saya tunggu komentarnya.
Secara keseluruhan blog ini lebih banyak membahas mengenai Lampung khususnya Lampung Barat karena memang saya adalah orang asli Lampung Barat. Tetapi bukan berarti blog saya mengarah pada kesukuan, Hanya saja saya ingin kita sebagai generasi muda lebih peka dan perduli terhadap daerah kita (Tanah kelahiran).
Buktinya teman saya yang membuat saya terinspirasi untuk membuat blog seperti yang saya jelaskan di atas adalah bukan orang yang berasal dari lampung asli, dia berasal dari suku jawa tetapi telah lama menetap di Liwa Lampung Barat dan saya salut dengan dia karena kepeduliannya terhadap Lampung Barat tidak perlu di ragukan lagi bahkan melebihi orang asli Lampung Barat.
Untuk itu saya mengajak kepada Muli Mekhanai Lampung dan semua pemuda di Indonesia untuk ikut serta memberikan sumbangan positif untuk Bangsa dan Negara paling tidak untuk daerah asal (tanah kelahiran) kita dengan berbagai macam cara yang tentunya positif dan kreatif tak terkecuali melalui dunia maya,
Jangan hanya menunggu dan mengandalkan orang lain tetapi mulailah dari diri sendiri, tidak usah jauh-jauh cukup membuat blog seperti ini saja itu merupakan sebuah awal yang baik dan membuat blog seperti ini sangatlah mudah, Banyak orang yang bisa dan mampu membuat blog tetapi mereka tidak berbuat apa-apa.
Berbicara mengenai hal ini saya jadi teringat sebuah pantun yang merupakan potongan dari pantun adat di Lampung Barat yang di namakan Butattah
Untuk itu izinkanlah saya untuk sedikit berpantun kali ini
Nyom sinyom lalang sinyom
Ipon tandok wawasa
Lamon hulun sai nalom
Kidang ya mawat haga
Finaly, Semoga blog ini bisa bermanfaat untuk kita semua, Dan mari kita ambil bagian kita sebagai generasi muda untuk memberikan sumbangan positive.
Mak kham, Sapa lagi….?
Mak ganta, Kapan lagi..?
By: Artha Dinata AR
-
Arsip
- Agustus 2009 (2)
- Juni 2009 (1)
- Mei 2009 (1)
- April 2009 (3)
- Maret 2009 (1)
- Januari 2009 (1)
- Desember 2008 (3)
- November 2008 (7)
-
Kategori
-
RSS
RSS Entri
Komentar RSS










