Mekhanai Liwa Lampung Barat

Blog Anak Liwa Lampung Barat

Damar dan Cara Masyarakat Krui Melestarikan Lingkungan Hidup

dsc_0100updateFajar mulai menyingsing ketika seorang laki-laki di usia 30-an memanjat Damar Pinus, membawa sebuah keranjang rotan di bahunya. Ia menaiki pohon itu begitu cepat, menggunakan tali dari rotan, dengan hati-hati ia memeriksa setiap potongan pada pohon untuk mendapatkan getahnya. Saat menemukan getah yang mengental, getah yang sudah kering, ia mengambilnya dan menaruh potongan-potongan itu ke dalam keranjang. Aktivitas seperti itu merupakan pemandangan umum di desa Pahmungan, Krui, Lampung Barat.

Bagi masyarakat krui, mengumpulkan getah damar tidak hanya pekerjaan laki-laki tetapi juga untuk perempuan. Damar Pinus (Shorea javanica) telah diolah di Krui sejak ratusan tahun yang lalu. Kawasan alami pohon damar telah dikenal di luar negeri sudah sejak lama. Para penguasa Belanda pada masa penjajahan menggunakannya sebagai bahan baku untuk memproduksi berbagai produk seperti pernis, cat, tinta, kemenyan dan kosmetik sebagaimana yang dijelaskan Oyos Saroso HN.
Hingga kini, masyarakat Krui terus melindungi warisan mereka, nuansa hijaupanjat damar pepohonan Damar Pinus mengisi bukit dan peternakan di wilayah pesisir. Masyarakat krui dalam mengelola perkebunan repong damar mempunyai hukum adat untuk melindungi Damar Pinus. Pohon Damar Pinus tidak boleh ditebang dan setiap orang yang melanggar hukum tersebut menerima hukuman dalam bentuk penanaman pohon Damar baru, Bahkan setiap orang yang akan menjadi calon pengantin harus menanam pohon sebelum menikah. Beberapa orang Krui bahkan percaya bahwa mereka dapat berbicara dengan Damar pinus. Selama bertahun-tahun, orang tua di Krui mengatakan kepada anak-anak mereka, “jika Anda butuh uang untuk membayar biaya sekolah anak-anak Anda, berbicaralah dengan pohon Damar”.

250px-Repong_damar_010813_kryPengamat budaya Lampung Anshori Djausal mengatakan bahwa adat tidak memiliki makna denotative, Itu jelas merupakan sebuah pesan kepada anak-anak Krui untuk terus menjaga dan melindungi pohon Damar, dan itu telah terbukti berhasil. banyak orang Krui telah sukses dan memiliki tingkat pendidikan yang tinggi sejak orang tua mereka membudidayakan Damar Pinus. Pohon-pohon adalah sumber utama pendapatan bagi masyarakat Krui. Setiap minggu, para petani mengumpulkan getah dan ketika mereka telah merasa cukup, mereka menjualnya ke pengumpul.

Ancaman terhadap perkebunan repong damar datang pada saat pembukaan3194070665 perkebunan kelapa sawit yang mengabaikan hukum adat. Pada akhir tahun 1980-an, banyak pohon Damar yang ditebang untuk membuka perkebunan kelapa sawit, dan para penebang liar mencuri kayu Damar Pinus dengan mencampurkannya dengan kayu biasa sehingga polisi tidak menghentikan mereka, karena mereka tidak menyadari para penebang liar telah mencampurnya dengan kayu ilegal Damar pinus. Namun bagaimanapun juga para penduduk desa di desa Pahmungan tetap memegang teguh tradisi mereka dalam melindungi Damar Pinus, puluhan desa lainnya di Lampung Barat juga masih menjunjung tinggi tradisi yang sama.

Husin, seorang penduduk desa Pahmungan berusia 57 tahun, memelihara beberapa pohon Damar di perkebunannya, yang merupakan warisan dari nenek moyang mereka yang telah dimiliki sejak zaman penjajahan Belanda. “Semakin banyak sesorang memiliki repong Damar, maka semakin tinggi pula status sosial yang dimilikinya,” ujar Husin. Menurut data dari administrasi Kabupaten Lampung Barat, saat ini terdapat sekitar 17.500 hektar repong damar di daerah, terutama di daerah pesisir, dengan 1,7 juta pohon. Pohon-pohon yang tumbuh terutama oleh masyarakat desa, menghasilkan sekitar 315 ton getah per tahun, yang sebagian besar diekspor ke Bangladesh, India, Italia, Pakistan dan Arab Saudi. Orang-orang krui tidak hanya mengisi perkebunan Pinus mereka dengan pohon Pinus saja, mereka mengkombinasikan dengan pohon buah-buahan seperti durian, langsat dan lain-lain.

3194071936Kurniadi aktivis lingkungan hidup, yang bekerja sama dengan petani repong damar, mengatakan bahwa secara ekologis, keberadaan petani Damar Pinus tradisional memiliki nilai tinggi. Selain sebagai daerah resapan air, repong damar juga berfungsi sebagai daerah penyangga bagi upaya konservasi di Taman Nasional Bukit Barisan Selatan.
Pada tahun 1997, Pemerintah memberikan penghargaan Kalpataru kepada masyarakat krui, atas komitmen mereka terhadap kelestarian Damar Pinus melalui hukum adat.
Kurniadi mengatakan bahwa bagi masyarakat Krui, repong damar lebih dari sebuah sumber pendapatan. “Ada ikatan yang kuat antara masyarakat Krui dan repong damar, Itu adalah identitas mereka, “katanya. Peneliti dan aktivis lingkungan hidup mengatakan, keberlanjutan repong damar di Krui adalah contoh harmoni antara manusia dan alam.

Melestarikan repong damar tidaklah mudah bagi masyarakat Krui. Beberapa diantara merek telah tergoda untuk menjual perkebunannya untuk mendapatkan uang untuk membeli peralatan rumah tangga yang modern.
Zulfaldi, salah satu eksekutif dari Pemilik Asosiasi Repong Damar, mengatakan bahwa tanpa pengawasan, repong damar mungkin akan lenyap. Datangnya budaya modern, suka atau tidak, telah menggoda anak-anak muda di Krui untuk bekerja di kota-kota besar dan industri dan meninggalkan repong damar,” ujar Zulfaldi. Dia mengatakan bahwa asosiasi ini bekerja sama dengan lembaga penelitian untuk meningkatkan kualitas Damar untuk membantu penambahan harga jualnya. “Kami sedang berusaha untuk menaikkan harga jual Damar dengan sebuah proses yang dapat memperbaiki kualitas getah yang rendah,” katanya.
menjual-getah-damar Sebuah survei yang dilakukan pada tahun 2004 oleh Pusat Riset Kehutanan Internasional menunjukkan bahwa dengan harga jual sekitar Rp 4.000 per kg, petani Damar bisa memperoleh sekitar Rp 10 juta setahun. Jumlah itu tidak termasuk dengan hasil panen pohon-pohon lain yang tumbuh diantara perkebunan Damar tersebut. Panen repong damar dapat memberikan pendapatan yang relatif baik.

Nur Alipin, seorang petani Damar berusia 63 tahun di Pahmungan mengatakan, harga tertinggi terjadi pada tahun 1998, getah Damar bisa mencapai harga Rp 8000 per kilogram. Menurutnya, Idealnya harga berdasarkan pertimbangan biaya produksi, harga minimal harusnya Rp 15.000 per kilogram. Jika kalaa itu satu kilogram getah Damar dapat membeli tiga kilogram beras, namun lain halnya sekarang, harga satu kilogramnya bahkan lebih kecil dari harga beras.

Juni 24, 2009 Ditulis oleh Artha Dinata AR | Uncategorized | | 1 Komentar

Pergeseran Nilai Seni Tradisional Muli Mekhanai di Lampung Barat

lengger_cilacap_18Masyarakat adat Lampung Barat merupakan masyarakat yang masih menjunjung tinggi nilai nilai adat budaya dan tradisi, Adat budayanya pun sangat khas. Sampai saat ini masih dapat kita jumpai Upacara – upaca Adat seperti Upacara Adat dalam menyambut Tamu Agung, Pengangkatan Raja, Nyambai Agung dan Pernikahan.

08eDiantara bebeberapa Upacara Adat tersebut, yang paling sering kita jumpai adalah Upacara Adat Pernikahan. Dalam hal ini Muda mudi yang dalam bahasa lampung disebut Muli Mekhanai mempunyai peranan sebagai pendukung dan penyemarak kegiatan Upacara Pernikahan tersebut. Terdapat beberapa Tradisi Muli Mekhanai dalam menyemarakkan

862457_1_392416793lUpacara adat Pernikahan ini salah satunya adalah Tari Selendang/Lempar Selendang, yaitu sebuah tarian menggunakan kain selendang oleh Muli Mekhanai yang diringi oleh musik tradisional Gong dan Rebana. Secara bergantian Muli Mekhanai mencari pasangan hingga terbentuk dua pasangan lalu barulah tarian dimulai, proses pergantian antar Muli Mekhanai satu dengan yang lainnya adalah saat dihentikannya alunan musik ditengah pasangan Muli Mekhanai yang sedang menari lalu mereka masing-masing memilih dan memberikan selendang untuk penari selanjutnya secara berpasangan dan demikian seterusnya.

Namun kini seiring tradisi tersebut berubah dan mengalami pergeseran nilaiTari yang cukup mengkhawatirkan. Tari Selendang yang awalnya adalah tarian selendang yang diikuti alunan musik tradisonal, kini berganti menjadi tak ubahnya sebuah Pesta Dugem, alunan musik tradisonal Gong dan Rebana digantikan menjadi alunan yang mereka sebut dengan House Music dari VCD Player dengan speaker yang disetel sekencang-kencangnya, tarinya pun yang awalnya syarat akan nilai seni tradisional mau tidak mau harus mengikuti alunan House Music tadi, yang masih tersisa hanyalah kain selendang yang fungsinya memang masih sama dengan fungsi awal.

Ironis dan menghawatirkan memang jika melihat fenomena seperti ini terjadi ditengah-tengah masyarakat lampung barat yang masih memegang teguh nilai nilai keluhuran adat budaya.

Globalisasi Dalam Kesenian Tradisional

globalisasi

Tidak dapat dipungkiri lagi bahwa globalisasi merupakan salah satu unsur kuat dan mendasar terhadap terjadinya perubahan dan pergeseran nilai-nilai budaya dan tentunya dalam hal ini kesenian tradisional sebagai salah satu subsistemnya.

Globalisasi adalah suatu fenomena khusus dalam peradaban manusia yang bergerak terus dalam masyarakat global dan merupakan bagian dari proses manusia global itu.

Kehadiran teknologi informasi dan teknologi komunikasi mempercepat akselerasi proses globalisasi ini. Kalau dahulu di Lampung Barat misalnya hanya ada alat musik gong dan rebana dan belum ada VCD Player maka sekarang sudah ada VCD Player yang lebih canggih, sehingga alat-alat musik tradisional tadi ditinggalkan dan digantikan dengan alat musik yang lebih canggih dan lebih mudah digunakan, Kondisi yang demikian mau tidak mau berpengaruh terhadap kesenian tradisonal kita, Padahal kesenian tradisional kita merupakan bagian dari khasanah kebudayaan nasional yang perlu dijaga kelestariannya.

Sebenarnya perubahan dan pergeseran nilai suatu kebudayaan adalah lumrah adanya, asalkan tidak bergeser terlalu jauh dari sifat dan nilai-nilai aslinya, karena pada dasarnya pun kebudayaan sebagai hasil cipta, rasa, dan karya manusia adalah bergerak secara dinamis. Namun yang terjadi justru berbeda, hampir tidak bisa kita dapati dimana letak nilai-nilai keluhuran budaya pada sebuah pesta Dugem House Music ini.

Lalu bagaimana seharusnya kita menyikapi kesenian tradisional yang merupakan cerminan nilai-nilai masyarakat ini, apakah tetap bersikap konservatif dengan lebih menekankan pada nilai originalitasnya (keaslian) atau lebih global dan memahami dan menerima bahwa kebudayaan memang bergerak terus menerus dan mengalami perubahan seiring berkembangnya zaman terlebih dengan kian derasnya arus globalisasi saat ini. Tentunya cara memandang kesenian tradisional tersebut setiap orang berbeda-beda adanya.

Namun Hendaknya fenomena ini bisa kita jadikan pelajaran dan acuan kita kedepan mengingat tantangan globalisasi dimasa mendatang akan semakin berat bahkan menyentuh seluruh aspek penting kehidupan. Globalisasi menciptakan berbagai tantangan dan permasalahan baru yang harus dijawab, dipecahkan dalam upaya memanfaatkan globalisasi untuk kepentingan kehidupan. Dan bukan tidak mungkin dimasa mendatang keberadaan dan eksistensi kesenian tradisional dapat dipandang dengan sebelah mata oleh masyarakat, jika dibandingkan dengan kesenian modern yang merupakan imbas dari budaya modern.

Tantangan globalisasi ini sejalan dengan apa yang ungkapkan oleh sosiologglobalization_1 asal Kenya Simon Kemoni, mengatakan bahwa globalisasi dalam bentuk yang alami akan meninggikan berbagai budaya dan nilai-nilai budaya. Dalam proses alami ini, setiap bangsa akan berusaha menyesuaikan budaya mereka dengan perkembangan baru sehingga mereka dapat melanjutkan kehidupan dan menghindari kehancuran. Tetapi, menurut Simon Kemoni, dalam proses ini, negara-negara Dunia Ketiga harus memperkokoh dimensi budaya mereka dan memelihara struktur nilai-nilainya agar tidak dieliminasi oleh budaya asing. Dalam rangka ini, berbagai bangsa Dunia Ketiga haruslah mendapatkan informasi ilmiah yang bermanfaat dan menambah pengalaman mereka.

Dan patut pula kita renungkan pokok-pokok pikiran yang di kemukakan oleh Naisbitt (1988), yaitu semakin kita menjadi universal, maka tindakan kita semakin menjadi kesukuan atau lebih berorientasi ‘kesukuan’ dan berpikir secara lokal, namun bertindak global. Yang dimaksudkan Naisbitt disini adalah bahwa kita harus berkonsentrasi kepada hal-hal yang bersifat etnis, yang hanya dimiliki oleh kelompok atau masyarakat itu sendiri sebagai modal pengembangan ke dunia Internasional. Dengan demikian, berpikir lokal, bertindak global, seperti yang dikemukakan Naisbitt di atas, dapat diletakkan dan diposisikan pada masalah-masalah kesenian di Indonesia sebagai kekuatan yang penting dalam era globalisasi ini.

Oleh : Artha Dinata AR

Mei 26, 2009 Ditulis oleh Artha Dinata AR | Uncategorized | | 2 Komentar

Tourism Heritage And Culture In Lampung

menara-sigerLAMPUNG

Lampung province is located at the extreme of south of Sumatra is overlooked, over flown by most tourists. In the past it was well known for its marvelous ‘tapi’ fabrics, some using real gold thread, and for its pepper. But today, it is the location from ambitious transmigration projects, resettling farmers from over-populated Java. It boasts volcanoes, wildlife reserve, megalithic remain and a superb coastline of deep-cut bays and wonderful beaches. Its capital is Bandar Lampung, is made up of twin cities that is Teluk Betung and Tanjung Karang. Way Kambas Nature Reserve is a 130,000 ha area of swamp and lowland forest with wild elephant, tapir and many other animals.

The name of Lampung province was taken from origin Lampungnese. Before31940019191 Indonesia became independent country, a resident led Lampung region and the status was as residency area (Residentie lampungche districten) with many afdeling (afdeling Teloek betoeng, afdeling metroand afdeling kotabumi). The villages/old town with traditional living characteristic could be found like sukadana, menggala, kenali, liwa, blambangan umpu etc. A part of these town bacame the capital of district. In the first of 2000 was 7 millions the population of Lampung Province. Among 10 district / town, the most population was in central Lampung with 1.901.630 and the density population was in Bandar Lampung city, 3.763 soul/km2.

tnbbsGeographically
Lampung province is located between 3o 45′ and 6o 45′ South Latitude and between 103o 40′ and 105o 50′ East Longitude. This province is bordered by:
North side: South Sumatra Province
South Side: Sunda Strait
West side: Bengkulu Province
East side: Java Sea

Wide Area
The wide area of Lampung province is 33,307 sq km,tari-sembah
Administrativelly
Lampung Province is divided among 4 regencies, 1 municipality and 1 administrative town with Bandar Lampung as its capital city.

Temperature
The humidity of this province is various between 50% and 86%, and the rainfall is ranges between 2,000 and 4,000 mm per year. The temperature ranges between 20o C and 34o C.

Demography
The migration flow to Lampung province is supported by the existence of heavy plantation, fishery and industry. In 1994, the total population of this province was 6,200,306 people, with its average density of 196.8 people per Km2. Compared to the average national population growth amounted to 2.144% per year, this province was on the lower level with 2.12% per year during the 1990-1994 period. The projection and composition in 1997 can be seen on the following table.

pasr-putihPopulation

Lampung society consists of two main groups, respectively has special traditional law. They are Peminggir traditional society and Pepadun traditional society. Peminggir societies, such as, Krui, Ranau, Komering, and Kayu Agung society, live along the coast And, Pepadun society, who customarily conservative, such as, Abung (Abung Siwo Migo), Pubian (Pubian Telu Suku), Tulang Bawang (Migo Pak), Buai Lima (Way Kanan), and Sungkay Bunga Mayang, live in the inland.

Source : indonesia-tourism.com

April 28, 2009 Ditulis oleh Artha Dinata AR | Uncategorized | | 1 Komentar

Fotografer Indonesia Berkumpul di Lampung Barat

Tanggal 26  – 29 Maret kemarin Komunitas fotografer se-Indonesia berkumpul di Lampung Barat dalam rangka menyemarakkan kegiatan The Hidden Paradise Exploration and Photo Hunting 2009.

explore surga lambar

Pemilihan lokasi di Lampung Barat, tidak lain karena kekaguman mereka terhadap pesona alam, dan budaya serta arsitektur tradisional rumah panggung Lampung Barat.

hujung-traditional home
Koordinator fotografer asal Lampung, Budi Martha, mengatakan banyak sekali anggota komunitas ini yang berminat setelah membaca dan melihat melalui artikel dan galeri foto di portal fotografer.net yang di-upload beberapa fotografer Lampung, di antaranya Budhi Marta sendiri dan Eka Fendiasapara.

lamban gedung skala brak

Kegiatan tersebut akan diikuti sekitar 28 fotografer. Mereka terdiri 22 peserta dari Jakarta, Jawa Timur, Jawa tengah, dan warga Lampung. Selama di Lampung Barat, rombongan ini sebagian besar menginap di rumah panggung tradisional di Pekon Balak, Batu Brak. Lokasi hunting (mencari objek foto) dilaksanakan di Kecamatan Belalau, Batu Brak, Lumbok Ranau, Pahmungan, Pesisir Utara, dan Pesisir Selatan.
3194070813

Kegiatan ini mendapat sambutan positif dari Dinas Pariwisata Lampung Barat karena diharapkan akan menjadi salah satu sarana promosi yang efektif tentang keindahan Lampung Barat melalui sudut pandang para fotografer Indonesia.

3194070655

31940710861

Marketing Pesagi Adventure, Arif Nugroho, menambahkan kegiatan ini merupakan salah satu dukungan untuk Visit Lampung Year 2009.

3194071440

3194071271

Kedatangan para fotografer tersebut diharapkan akan memberikan warna promosi kepariwisataan di Lampung Barat.

31940715621

crikanpiyuh

Menurutnya Fotografer memiliki ketajaman yang lebih untuk melihat atau mengemas keindahan dalam sebuah foto.

Berikut beberapa hasil Foto yang di ambil di Lampung Barat oleh para Fotografer,

lembahbatubrak

3194070939

3194071665

3194071826

3194070675

Rumah makan terapung Lambar

Rumah makan terapung Lambar

warung sate ikan blue marlin krui

warung sate ikan blue marlin krui

sunset pantai tembakak..

sunset pantai tembakak..

Sumber: Diolah dari Lampung Post, Udo Z Karzi (Ulun Lampung)

Foto dari Fotografer.net

April 13, 2009 Ditulis oleh Artha Dinata AR | Uncategorized | | 8 Komentar

Festival Teluk Stabas Lampung Barat

Festival Teluk Stabas

Festival Teluk Stabas adalah even tahunan yang diadakan di Lampung Barat , Nama Teluk Stabas diambil dari salah satu kawasan Teluk di Krui-Lambar yang menjadi tempat berlabuh kapal Belanda dan asing di sana sejak zaman dulu, sehingga terus digunakan namanya karena telah dikenal kalangan dunia internasional.

img-0801


Event ini diselenggarakan bertujuan untuk mempromosikan potensi wisata Lambar yang sekaligus menjadi objek wisata unggulan daerah Lampung.

Pembukaan acara ini biasanya di mulai dengan atraksi Tari Sekura (topeng) dan gelar budaya dari 17 kecamatan se-Lampung Barat.

suasana_topeng_panjat_pinan2

Di tengah acara juga ada atraksi paramotor di udara sekitar lapangan itu, termasuk kehadiran belasan turis asing yang ikut menari topeng seperti pada Festival Teluk Stabas ke 10 dimana belasan turis asing dari Australia dan Kanada yang sedang melakukan aktifitas surfing di Tanjung Setia ini ikut menari topeng bersama Gubernur Sjachroedin dan Bupati Lambar Erwin Nizar T, beserta pejabat sipil dan TNI di Lampung dan Lambar.

wisata

Event ini diisi oleh berbagai kegiatan yaitu :

  • Arung Jeram

arungjeram2

  • Jelajah Alam

pemandangan-lampung

  • Layang layang

spacerlayang

  • Atraksi Damar

kebun_damar2

  • Volley Pantai
  • Kebut Gunung Pesagi
  • Lomba Pacu Kambing
  • Muayak

wisata1

  • Lomba Lagu Pop
  • Lomba Tari Kreasi
  • Lomba Lagu Daerah
  • Lomba Muli Mekhanai
  • Olahraga Tradisional Kuda Buta
  • Kontes Burung Berkicau
  • Upih Ngesot

Festival Teluk Stabas dilaksanakan sekitar bulan Juli secara rutin setiap tahun.

* Diolah dari Lampung Post, Radar Lampung, LKBN Antara dan Dinas Pariwisata Lampung Barat

April 13, 2009 Ditulis oleh Artha Dinata AR | Uncategorized | | 1 Komentar

Suoh Miliki Potensi Wisata Panas Bumi dan Danau

Kecamatan Suoh, Kabupaten Lampung Barat atau sekitar 250 Km dari Bandarlampung memiliki potensi wisata yang cukup bagus berupa panas bumi yang setiap saat airnya mengeluarkan gelembung dan letupan serta empat buah danau berukuran cukup luas.

panas bumi suoh

Mantan Camat Suoh, Rusli Rasyid, mengatakan di Bandarlampung, Selasa (12/2), objek wisata itu terletak di Dusun Kalibata, Desa Sukamarga, Kecamatan Suoh, Kabupaten Lampung Barat, pada kedua tempat itu potensi panas bumi dan danau belum dikelola secara baik oleh pemerintah kabupaten setempat untuk dijadikan kawasan wisata.

mini-willydozernaikrakit

Menurutnya kedua objek wisata itu sangat bagus dan jika dikelola secara baik oleh pemerintah setempat tidak mustahil turis lokal maupun mancanegara akan banyak yang datang untuk melihat keindahan alam di sana.

“Lokasi panas bumi dan danau berada di bawah pegunungan di sekitar kawasan antara hutan lindung dan Taman Nasional Bukit Barisan (TNBBS),” katanya.phto0021

Ia menyebutkan ada sekitar belasan lubang berbentuk kolam, baik besar maupun kecil mengeluarkan gelembung air yang sedang mendidih dan mengeluarkan bunyi letupan-letupan kecil serta asap yang membumbung ke udara.

Bau belerangpun di sekitar kolam-kolam itu sangat menyengat hidung. Warga setempat banyak memberikan nama-nama di lokasi panas bumi tersebut seperti Keramikan, Pasirkuning, gunung goyang, dan nama lainnya.

Sementara di lokasi itu juga terdapat empat danau besar yang cukup indah, yakni Danau Asem, Danau Minyak, Danau Belibis, dan Danau Lebar.

Luas masing-masing danau bisa mencapai ratusan hektare, Danau Asem misalnya memiliki luas kurang lebih 160 ha.

Pengunjung objek wisata itu didominasi oleh warga sekitar sisanya dari kabupaten/kota lain serta turis dan peneliti asing.

Rendahnya kunjungan ke tempat itu akibat sarana dan prasarana jalan kurang baik. Jalan menuju kelokasi wisata itu tidak beraspal melainkan berbatu dan tanah merah.

menuju suoh

“Kawasan ini masih terisolasi karena infrastrukturnya belum memadai,” tambahnya.

Sementara itu beberapa kalangan juga menilai pemerintah setempat sepertinya kurang peduli dengan objek wisata cukup bagus itu.

“Objek wisata berupa panas bumi sangat jarang ditemui bahkan di dunia pun sangat sedikit,” kata Rusli lagi.

Selain itu pemerintah setempat kurang melakukan promosi tentang objek wisata itu, sehingga wajar dunia luar tidak mengetahuinya.

“Turis asing mengetahui lokasi wisata panas bumi ini dari mulut-ke mulut temannya yang telah mengunjungi tempat itu lebih dahulu,” katanya.

PLTP Suoh

medcoenergi_logo

Pemerintah Kabupaten Lampung Barat, Provinsi Lampung, menggandeng PT Medco Geothermal Indonesia untuk membangun pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) di Kecamatan Suoh, Lampung Barat.


Potensi panas bumi di Suoh sama sekali belum dimanfaatkan karena keterbatasan dana. Selain menggandeng PT Medco Geothermal Indonesia, Pemerintah Lampung Barat juga melibatkan badan usaha milik daerah yang akan dibentuk.


Pembangunan PLTP ini diharapkan dapat meningkatkan pembangunan di Lampung Barat. Apalagi masih banyak daerah di Lampung Barat yang terpencil karena infrastruktur yang kurang baik.


Ramah lingkungan

pltp

Berbeda dengan PLTP lain di Pulau Jawa dan Sulawesi, PLTP Suoh memiliki sejumlah keunggulan. Lingkungan di sekitar lokasi pembangunan PLTP Suoh masih alami. PLTP ini dapat dijadikan sebagai model pembangkit listrik yang ramah lingkungan.
Meski memiliki bisnis utama di bidang minyak dan gas (migas), kelompok Medco tertarik bergerak di bidang panas bumi. Alasannya, dari 27.000 MW potensi panas bumi di Indonesia, baru sekitar 800 MW atau tiga persen yang dimanfaatkan.

Sumber: Antara & Kompas

Maret 12, 2009 Ditulis oleh Artha Dinata AR | Uncategorized | | 4 Komentar

Lampung Barat Gelar Semarak Wisata Tanjung Setia

Pergelaran Semarak Wisata Tanjung Setia, Lampung Barat, Minggu (14-12) berbarengan dengan peringatan Hari Nusantara.

31940015323194001919

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Lampung Barat Gatot Hudi Utomo mengatakan melalui penggabungan dua kegiatan, yakni Semarak Wisata Tanjung Setia dan Hari Nusantara, oleh Dinas Perikanan dan Kelautan diharapkan akan menambah kemeriahan acara yang puncaknya pada Minggu (14-12).

31940019223194001936

Semarak Wisata Pantai Tanjung Setia menggelar berbagai perlombaan, seperti kebut jukung, renang laut, dan ekshibisi selancar yang akan diikuti

surfer-cilik-tanjung-setia

anak-anak Tanjung Setia. Sedangkan kegiatan Hari Nusantara, yakni lomba bersih-bersih pantai, lomba memasak ikan, kebut jukung, dan lomba kelompok nelayan.

3194001527

Pada acara puncak kegiatan yang didukung Lampung Post itu ditampilkan peselancar nasional yang didatangkan dari Pantai Carita, monyet panjat kelapa, atraksi tari-tari tradisional, serta arakan-arakan yang menggunakan gerobak hias dan akan dihiasi dengan belasan putri pantai.

31940019303194001420

Tahun ini, kata Gatot, turis asing yang berkunjung di Pantai Tanjung Setia mencapai 2.000 orang, dan wisatawan lokal sudah puluhan ribu orang. “Kegiatan ini sebagai upaya untuk mempromosikannya dengan harapan dari tahun ke tahun yang berkunjung akan bertambah banyak,” kata dia.

31940019383194001954

Namun sayangnya acara ini diadakan pada saat musim surfing (Mei-September) telah usai. Hanya surfer lokal saja yang beraksi. Ombak Pantai Tanjung Setia ketinggiannya mencapai 7 meter pada Juni–Agustus, sedangkan bulan lain tingginya rata-rata 4 meter dengan pecahan ombak sepanjang 200 meter.

3194001386

Segmen yang ditawarkan Pantai Tanjung Setia adalah selancar, sunset, menyelam, budaya lokal, memancing, serta kearifan masyarakat lokal bukan hanya wisatawan asing.

31940019391

Sementara Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Lambar Natajuddin menjelaskan tujuan pelaksanaan Hari Nusantara adalah untuk

tanjung-setia13194001945

mengembalikan kejayaan Indonesia yang 2/3 luasnya adalah lautan, sehingga diharapkan muncul kesadaran masyarakat tentang bahari termasuk bagaimana menjaganya agar bermanfaat bagi masyarakat.

Januari 4, 2009 Ditulis oleh Artha Dinata AR | Uncategorized | | 10 Komentar

Lambar akan Bangun Kebun Raya Liwa

Lokasi Pembangunan Kebun Raya Liwa

Lokasi Pembangunan Kebun Raya Liwa

LIWA (Lampost): Rencana Pemerintah Kabupaten Lampung Barat bekerja sama dengan Pemerintah Provinsi, pusat, dan Kebun Raya Bogor dalam rangka membangun Kebun Raya Liwa, saat ini terus dilakukan.

Kepala Dinas Kehutanan Lampung Barat Warsito saat diminta komentar mengatakan tindak lanjut rencana pembangunan Kebun Raya Liwa (KRL) itu, saat ini pihak Kebun Raya Bogor (KRB) tengah mempersiapkan penyemaian bibit. Lokasi penyemaian bibit akan dilaksanakan di sekitar lokasi Hamtebiu.

Adapun jenis tanaman yang akan dilakukan pembibitan itu adalah tanaman img-10492berupa kayu maupun tanaman hias. Yang jelas, kata Warsito, tanaman itu nantinya merupakan tanaman ciri khas Lampung Barat, seperti tanaman pakis dan anggrek. Untuk menjaga keaslian aneka tanaman tersebut, bibit akan diambilkan dari kawasan hutan, baik hutan lindung maupun TNBBS.

Di tempat terpisah, Kabid Fisik Bapeda Lampung Barat, Armand Ahcyuni, menjelaskan selain sedang dilakukan proses penyemaian oleh pihak KRB itu, tindak lanjut pembangunan KRL baru akan memasuki tahap sosialisasi masterplan oleh Departemen PU yang rencananya dilakukan setelah bulan puasa.

31938956191

Selain itu, kata dia, pada 2009 tindak lanjut rencana pembangunan KRL baru akan dibuatkan analisis mengenai dampak lingkungan (amdal). Untuk pembuatan amdal, pihaknya telah mengusulkan dana sebesar Rp300 juta. Kemudian pada 2009 juga akan diusulkan dana pendamping dalam rangka pembibitan. n ELI/D-3

Sumber: Lampung Post, Rabu, 10 September 2008

Desember 15, 2008 Ditulis oleh Artha Dinata AR | Uncategorized | | 12 Komentar

Kain Tapis Lampung

tapis-4

Pengertian Tapis Lampung

Kain Tapis adalah pakaian wanita suku Lampung yang berbentuk kain sarung terbuat dari tenun benang kapas dengan motif atau hiasan bahan sugi, benang perak atau benang emas dengan sistim sulam (Lampung; “Cucuk”).
Dengan demikian yang dimaksud dengan Tapis Lampung adalah hasil tenun benang kapas dengan motif, benang perak atau benang emas dan menjadi pakaian khas suku Lampung. Jenis tenun ini biasanya digunakan pada bagian pinggang ke bawah berbentuk sarung yang terbuat dari benang kapas dengan motif seperti motif alam, flora dan fauna yang disulam dengan benang emas dan benang perak.

Sejarah Kain Tapis Lampung

tari-sembah

Kain tapis merupakan salah satu jenis kerajinan tradisional masyarakatLampung dalam menyelaraskan kehidupannya baik terhadap lingkungannya maupun Sang Pencipta Alam Semesta. Oleh sebab itu, munculnya kain Tapis ini ditempuh melalui tahap-tahap waktu yang Baca selebihnya »

Desember 14, 2008 Ditulis oleh Artha Dinata AR | Uncategorized | | 1 Komentar

Festival Krakatau 2008

tt_7784218661225978567

Festival Krakatau ialah Event tahunan yang merupakan program PEMDA Provinsi Lampung. Acara ini merupakan serangkaian event yang diharapkan akan mencapai antusiasme para pengunjung dengan kunjungan +/- 20.000 wisatawan baik lokal maupun dari luar negeri seperti pada event – event Festival Krakatau sebelumnya yang telah diselenggarakan pada tahun 2007 lalu dan pada tahun 2008 ini puncaknya akan digelar di Krakatoa Nirwana Resort.

Gunung Krakatau dipilih sebagai tempat Festival karena gunung yang berada di tengah – tengah laut itu sangat eksotis dan terkenal keseluruh dunia. Gunung itu telah menjadi ikon Lampung. Bahkan, dinegara – negara Eropa lebih dikenal dibandingkan dengan nama Lampung itu sendiri.

Festival Krakatau melibatkan banyak komunitas masyarakat diantaranya ialah komunitas pencinta dan penyuka Layang – layang, Komunitas Off road, Komunitas Paramotor, Komunitas Jet Ski, Komunitas Diving dan Snorkeling, yang tentunya akan datang dan memeriahkan Festival Krakatau.

Kami yakin dengan terselenggaranya Festival Krakatau ini ditahun 2008 akan menciptakan dampak positif bagi dunia parawisata khususnya di Lampung, melalui festival ini juga diharapkan mampu mengundang minat wisatawan baik domestik maupun luar negeri untuk dapat menikmati wisata Adventure di Krakatau. Krakatoa Nirwana Resort sebagai satu-satunya resort exclusive didaerah Kalianda – Lampung Selatan memberikan dukungan terhadap event tahunan Festival Krakatau dengan menyelenggarakan beberapa event guna mendukung program Visit Lampung 2009 mendatang.

tt_2328451541225978506

Festival Krakatau diadakan dibeberapa tempat, yaitu di Taman Hutan Kota Bandar Lampung, Krakatoa Nirwana Resort di Lampung Selatan dan di sekitar Kepulauan Krakatau (Gunung Krakatau).

Beberapa aktifitas besar yang akan diadakan di Krakatoa Nirwana Resort merupakan salah satu kontribusi terbesar dalam menyukseskan Festival Krakatau XVIII 2008

(Sumber : Krakatoa News Vol. 1 Agustus 2008 – HS)

Desember 1, 2008 Ditulis oleh Artha Dinata AR | Uncategorized | | No Comments Yet